“Wah.., hujan lagi nih, cucian jadi susah kering..!” yang lain menambahkan, “Ya, saya juga sulit bekerja!” Yang lain lagi menimpali, “Apalagi toko saya, jadi sepi gara-gara hujan!”, bahkan ada yang menyeletuk, ”Gara-gara hujan nih, kita jadi kebanjiran..!!”. Inilah perkataan yang sering kita dengar di musim hujan ini. Apakah sebenarnya hikmah di balik hujan yang diturunkan Allah (? Apakah hujan hanya membawa petaka?, Insya Allah akan kita bahas secara ringkas tentang hal ini, mengingat banyaknya kaum muslimin yang belum mengetahui arti pentingnya hujan, bahkan sebagian berprasangka buruk tentangnya.
Hikmah dan manfaat di balik turunnya hujan
Hujan sangat banyak mengandung hikmah dan manfaat, telah banyak dijelaskan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, di antaranya:
Rahmat Allah untuk seluruh makhluk
Allah ( berfirman yang artinnya ):
“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28).
Karunia Allah ta'ala
Selain sebagai rahmat, hujan merupakan karunia Allah (, sebagaimana do’a yang diucapkan Nabi ( setelah hujan,
(( مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَ رَحْمَتِهِ ))
“Telah diturunkan hujan kepada kami atas karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim
Rizki bagi seluruh makhluk
Allah ( berfirman yang artinnya ):
“Dan di langit terdapat rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22).
Yang dimaksud dengan rizki di sini adalah `hujan`, sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan yang lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir (13/216), dan Al-Mishbah Al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1317).
Berkah dari Allah ta'ala
Allah ( berfirman yang artinya) :
"Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A’raf: 96).
Pertolongan untuk para wali Allah ta'ala
Allah ( berfirman yang artinnya ):
“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu, dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan, dan untuk menguatkan hatimu, dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu).” (QS. Al- Anfal: 11)
Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah mengatakan, “Hujan yang dimaksud di sini adalah hujan yang Allah turunkan dari langit ketika hari Badr, dengan tujuan mensucikan orang-orang beriman untuk shalat mereka. Karena pada saat itu mereka dalam keadaan junub, namun tidak ada air untuk mensucikan diri mereka. Ketika hujan turun, mereka pun bisa mandi dan bersuci dengannya. Setan ketika itu telah memberikan was-was pada mereka yang membuat mereka bersedih hati. Mereka dibuat sedih dengan mengatakan bahwa pagi itu mereka dalam keadaan junub dan tidak memiliki air. Maka Allah hilangkan was-was tadi dari hati mereka dengan sebab diturunkannya hujan. Hati mereka pun semakin kuat. Turunnya hujan ini pun menguatkan langkah mereka. ... Inilah pertolongan Allah kepada Nabi-Nya dan wali-wali Allah. Dengan sebab ini, mereka semakin kuat menghadapi musuh-musuhnya.” (Tafsir Ath-Thabari, 11/61-62).
Sebagai alat untuk bersuci hamba-hamba Allah ta'ala
Sebagaimana telah disebutkan dalam point sebelumnya, yaitu pada Surat Al-Anfal: 11, firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu.” (QS. Al-Anfal: 11).
Imam Asy-Syaukani Rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan mensucikan kamu adalah untuk menghilangkan hadats.” (Fath Al-Qadir, 2/419).
Permisalan tentang kekuasaan Allah Ta’ala dalam menghidupkan kembali makhluk-Nya kelak pada Hari Kiamat.
Hal ini dapat kita saksikan dalam beberapa ayat berikut ini,
Pertama, Firman Allah Ta’ala yang artinnya :
“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” (QS. An-Nahl: 65).
Kedua, Juga dalam ayat, yang artinya, “Dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS. Qaaf: 11). Dan masih banyak ayat Al-Qur`an yang senada tentang hal ini.
Adzab atas para pelaku maksiat
Hal ini dapat kita hayati dalam firman Allah ( tentang adzab pada kaum Nuh, yang artinya, “Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: `Binasalah orang-orang yang zalim`.” (QS. Hud: 44)
Hujan adalah rahasia Allah ta'ala
Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah yang artinnya :
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34).
Dari Buraidah (, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ( bersabda, “Lima hal, yang tidak diketahui seorang pun, kecuali Allah (..” kemudian beliau ( membaca ayat ini (QS. Luqman: 34).” (HR. Ahmad, Al-Bazzar dan yang lainnya, dengan sanad shahih. Lihat: Ad-Durr Al-Mantsur, 11/664).
Inilah sekelumit dari hikmah dan manfaat di balik hujan, yang sebenarnya sangat banyak, entah yang telah diketahui manusia ataupun belum.
Amalan shalih ketika turun hujan
Agama islam yang sempurna ini mencakup segala segi kehidupan manusia, yang berlaku dalam segala kondisi, zaman dan tempat. Rasulullah ( telah menjelaskan kepada ummatnya segala hal yang berkaitan tentang hujan, termasuk amalan shaleh yang patut dilakukan ketika turun hujan, di antaranya:
Keadaan Nabi ( tatkala mendung )
Ketika muncul mendung, Nabi ( begitu khawatir, jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ( إِذَا رَأَى نَاشِئاً فِي أُفُقٍ مِنْ آفَاِق السَمَاءِ، تَرَكَ عَمَلَهُ-وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ- ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ؛ فَإِنْ كَشَفَهُ اللهُ حَمِدَ اللهَ، وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ: (( اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً )).
”Rasulullah ( apabila melihat awan di salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya (meskipun dalam shalat), kemudian beliau kembali melakukannya lagi. Ketika awan tadi telah hilang, beliau memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan, “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang bermanfaat].” (Adab Al-Mufrad no. 686, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
’Aisyah radhiyallahu ’anha berkata,
كَانَ النَّبِيُّ ( إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِى السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ وَدَخَلَ وَخَرَجَ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ ، فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّىَ عَنْهُ ، فَعَرَّفَتْهُ عَائِشَةُ ذَلِكَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ (: ((مَا أَدْرِى لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ: (فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ()).
”Nabi ( apabila melihat mendung di langit, beliau beranjak ke depan, ke belakang atau beralih masuk atau keluar, dan berubahlah raut wajah beliau. Apabila hujan turun, beliau ( mulai menenangkan hatinya. ’Aisyah sudah memaklumi jika beliau melakukan seperti itu. Lalu Nabi ( mengatakan, ”Aku tidak mengetahui apa ini, seakan-akan inilah yang terjadi (pada Kaum ’Aad) sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), ”Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka.” (QS. Al Ahqaf: 24)” (HR. Bukhari no. 3206)
Mensyukuri nikmat turunnya hujan
Apabila Allah ( memberi nikmat hujan, dianjurkan bagi seorang muslim dalam rangka bersyukur kepada-Nya untuk membaca do’a, berdzikir, dan mengingat kebesaran kekuasaan Allah (, di antaranya adalah hujan.
Turunnya hujan, kesempatan terbaik untuk memanjatkan do’a
Sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi ( bersabda,
((اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ)).
’Carilah do’a yang mustajab saat bertemunya dua pasukan, menjelang shalat dilaksanakan, dan saat hujan turun.” (Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam Al-Umm dan Al-Baihaqi dalam Al-Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat: Shahih Al-Jaami’, no. 1026 dan Silsilah Ash-Shahihah, no. 1469).
Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d (, beliau berkata bahwa Rasulullah ( bersabda,
((ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ المَطَرِ)).
“Dua do’a yang tidak akan ditolak: do’a ketika adzan dan do’a ketika ketika turunnya hujan.” (HR. Al-Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohih Al-Jami’, no. 3078).
Do’a ketika turun hujan
Ketika turun hujan, kita disunnahkan untuk membaca do’a:
(( الَلَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً ))
“Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat.” (HR. Bukhari, no.1032).
Ketika terjadi hujan lebat
Nabi ( suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi ( berdo’a,
((اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ)).
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].” (HR. Bukhari, no. 1013 & 1014).
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan, ”Ketika hujan semakin lebat, para sahabat meminta pada Nabi ( supaya berdo’a agar cuaca kembali menjadi cerah. Akhirnya beliau membaca do’a di atas.” (Zaad Al-Ma’ad, 1/442).
Do’a setelah turun hujan.
Setelah turun hujan, kita disunnahkan membaca do’a:
(( مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَ رَحْمَتِهِ ))
“Telah diturunkan hujan kepada kami atas karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Do’a ketika angin bertiup
Ketika angin bertiup, entah menyertai hujan ataupun tidak, kita disunahkan membaca do’a:
(( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا ))
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau kebaikan angin ini. Dan aku belindung kepada-Mu dari keburukan angin ini.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Do’a ketika terjadi petir
Terkadang terdapat hujan yang disertai kilat, petir atau halilintar. Maka disunnahkan ketika terjadi hal tersebut kita berdo’a:
(( سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ، وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ ))
“Maha Suci Allah, yang petir bertasbih dengan memuji-Nya, dan begitu juga para Malaikat, karena takut kepada-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththa`, Syaikh Al-Albani berkata, “Sanadnya shahih secara mauquf”).
Mengambil berkah dari air hujan
Anas bin Malik ( berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah (. Lalu beliau ( menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah ( bersabda,
((لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى)).
“Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” (HR. Muslim, no. 898).
An-Nawawi menjelaskan, “Makna hadits ini adalah: hujan itu rahmat, yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah (. Oleh karena itu, Nabi ( bertabarruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut.” (Syarh Shahih Muslim, 6/195).
Dalam hal mencari berkah dengan air hujan, dicontohkan pula oleh Ibnu ‘Abbas (, ketika turun hujan, beliau berkata,
((يَا جَارِيَّةُ، أَخْرِجِي سَرْجِي، أَخْرِجِي ثِيَابِي، وَيَقُوْلُ: (وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً ()).
”Wahai jariyah keluarkanlah pelanaku, juga bajuku”. Lalu beliau membaca (ayat) [yang artinya], ”Dan Kami menurunkan dari langit air yang penuh barokah (banyak manfaatnya).” (QS. Qaaf: 9)” (Adab Al-Mufrad, no. 1228. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Sanad hadits ini shahih secara mauquf “).
Dianjurkan berwudhu dengan air hujan
Berdasarkan hadits berikut,
كَانَ ( يَقُوْلُ إِذَا سَالَ الوَادِي: ((أُخْرُجُوْا بِنَا إِلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللهُ طَهُوْرًا فَنَتَطَهَّرُ بِهِ)).
“Apabila air mengalir di lembah, Nabi ( mengatakan, “Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci, Kemudian kita bersuci dengannya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Ahmad. Lihat Irwa’ Al-Ghalil, no. 679. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Akhir kata
Dari penjelasan ringkas ini, kita bisa mengetahui betapa besarnya manfaat hujan yang Allah ( turunkan. Maka sudah sangat patutlah bagi kita untuk bersyukur, dengan mengamalkan beragam amalan shalih di atas, dan menghayati hikmah di baliknya, bukan malah sebaliknya, kita menggerutu atau mencela hujan. Karena mencela hujan pada hakekatnya mencela Dzat yang menurunkannya, yaitu Allah (. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, ada segelintir kaum muslimin yang menyandarkan hujan pada selain Allah (, apalagi meminta turunnya hujan kepada selain-Nya, yang sering kita kenal dengan `pawang hujan`. Hal ini sungguh menyelisihi syari`at islam yang suci.
Demikian sekelumit dari hikmah dan amalan shalih sekitar hujan, yang sebenarnya amatlah luas. Semoga bisa menjadi bahan renungan dan bermanfaat bagi kita.. Aamiin...
____________________________________
Penulis : Hamba Allah
Akun dakwah : Merauke Islamic

Posting Komentar